Monday, August 26, 2013

Budaya Antri

Postingan ini merupakan pengalaman pribadi dan pertama kali , saat Aku berobat pada sebuah Rumah sakit umum di kotaku. Sebagai warga negara yang sudah bisa membaca , Aku sangat malu melihat perilaku para pengunjung/pasien di  rumah sakit itu. Rumah sakit ini sudah cukup baik dalam mengatur antrian yang berjubel untuk para pasien dari segala kalangan. Baik pemakai Askes. jamsostek, maupun umum. Semua sudah tertata rapi. Nomor urut pengambilan kartupun sudah seperti antrian di Bank modern. Menggunakan alat modern, tinggal pencet dan keluarlah nomor antrian. 

Demikian pula ketika Kita sudah masuk di dalam ruangan untuk pembayaran loket, dan di bagian Poli apa Kita akan periksa. Panggilan satu persatu oleh suara merdu secara otomatis akan terdengar. Namun apa yang Aku lihat? semua pasien bergerombol di depan loket untuk mengambil kartu dan melakukan pembayaran. Karena baru pertama kali, tentu saja Aku menunggu hingga no antrianku dipanggil. 

Yang membuat Aku heran ,pengunjung yang memiliki no antrian diatasku sudah melenggang ke tiket pembayaran. Penasaran Aku maju ke depan loket yang sudah berjubel dengan para pengunjung. Dan busyeett, yang sudah dilayani adalah no antrian 20, 30,bahkan 50. Lha no antrian 9 ku kapan?. Bukanlah diatas layar nomor antrian yang dipanggil masih no 4?. Dengan berusaha tetap sopan Aku bertanya pada petugas loket.
"Mbak, sebenarnya berguna nggak sih, no antrian yang Saya pegang, kalau tidak buang saja tuh layar yang panggilan antrian pengunjung"
Dan, salah seorang pengunjung dengan santainya menjawab
"Wes gak berguna bu, siapa cepat dia dpat, gak usah ngantri"
Wow!!, Aku sangat takjub dengan jawaban pengunjung tersebut. Sedemikian parahkah penduduk negri ini tak menghargai budaya antri?

Salah seorang teman pernah bercerita saat Dia bersekolah di Australia,bahwa Seorang guru di Australia pernah berkata:
“Kami tidak perlu khawatir jika anak anak Kami tidak pintar dalam ilmu matematika, tapi kami jauh lebih khawatir jika mereka tidak pandai mengantri". 
Hmmm...apa maksudnya?


“Sewaktu ditanya mengapa & kok bisa begitu ?” (Tentu saja karena yang terjdi di negara Kita adalah sebaliknya, pandai berhitung/ matematika adalah diatas segalanya.

Dan inilah jawabannya:

Karena Kita hanya perlu melatih anak selama 3 bulan saja secara intensif untuk bisa Matematika, sementara kita perlu melatih anak hingga 12 Tahun atau lebih, untuk bisa mengantri & selalu ingat pelajaran berharga di balik proses mengantri. Karena tidak semua anak kelak akan berprofesi menggunakan ilmu matematika kecuali TAMBAH, KALI, KURANG DAN BAGI. Sebagian mereka anak menjadi Penari, Atlet Olimpiade, Penyanyi, Musisi, Pelukis dsb.

Karena biasanya hanya sebagian kecil saja dari murid-murid dalam satu kelas yang kelak akan memilih profesi di bidang yang berhubungan dengan Matematika. Sementara SEMUA MURID DALAM SATU KELAS ini pasti akan membutuhkan Etika Moral dan Pelajaran Berharga dari mengantri di sepanjang hidup mereka kelak.


”Memang ada pelajaran berharga apa dibalik MENGANTRI ?”

Banyak pelajaran yang bisa Kita petik dari sebuah tindakan mengantri

Anak belajar manajemen waktu, jika ingin mengantri paling depan datang lebih awal & persiapan lebih awal.
Anak belajar bersabar menunggu gilirannya tiba terutama jika Ia di antrian paling belakang.
Anak belajar menghormati hak orang lain, yang datang lebih awal dapat giliran lebih awal dan tidak saling serobot merasa urusannya paling penting.
Anak belajar berdisiplin dan tidak menyerobot hak orang lain.
Anak belajar kreatif utk memikirkan kegiatan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebosanan saat mengantri. (di Jepang biasanya orang akan membaca buku saat mengantri)
Anak bisa belajar bersosialisasi menyapa dan mengobrol dengan orang lain di antrian.
Anak belajar tabah dan sabar menjalani proses dalam mencapai tujuannya.
Anak belajar hukum sebab akibat, bahwa jika datang terlambat harus menerima konsekuensinya di antrian belakang.
Anak belajar disiplin, teratur dan kerapihan.
Anak belajar memiliki RASA MALU, jika ia menyerobot antrian dan hak orang lain.
Anak belajar bekerjasama dengan orang2 yang ada di dekatnya jika sementara mengantri ia hrs keluar antrian sebentar utk ke kamar kecil.
Anak belajar jujur pada diri sendiri & pada orang lain.

Dan mungkin masih banyak lagi pelajaran berharga lainnya, silahkan anda temukan sendiri sisanya.

Saya sempat tertegun mendengarkan butir-butir penjelasannya. Dan baru saja menyadari hal ini saat satu ketika mengajak si bocah berkunjung ke tempat bermain anak Timezone atau mengantri di toilet di sebuah stasiun.





Apa yang di pertontonkan para orang tua pada anaknya, dalam mengantri menunggu giliran sungguh memprihatinkan.

Ada orang tua yang memaksa anaknya untuk ”menyusup” ke antrian depan dan mengambil hak anak lain yg lebih dulu mengantri dengan rapi. Dan berkata ”Sudah cuek saja, pura-pura gak tau aja !!”
Ada orang tua yang memarahi anaknya dan berkata ”Dasar Penakut”, karena anaknya tidak mau dipaksa menyerobot antrian.
Ada orang tua yang menggunakan taktik dan sejuta alasan agar anaknya di perbolehkan masuk antrian depan, karena alasan masih kecil capek ngantri, rumahnya jauh harus segera pulang, dsb. Dan menggunakan taktik yang sama di lokasi antrian permainan yang berbeda.
Ada orang tua yang malah marah karena di tegur anaknya menyerobot antrian,& menyalahkan orang tua yang menegurnya.
dan berbagai macam kasus lainnya yg mungkin anda pernah alami juga?
Malu pada diri sendiri karena saat itu ada warga asing yang juga berada di barisan antrian. Entah apa yang ada di pikiran mereka.

Sayang sekali jika orang tua, guru, dan Kementrian Pendidikan kita masih saja meributkan anak didiknya tentang Ca Lis Tung (Baca Tulis Hitung), Les Matematika & sejenisnya. Padahal negara maju sudah mulai berpikiran bahwa mengajarkan pendidikan MORAL jauh lebih penting daripada pelajaran CALISTUNG. Mungkin itu yang menyebabkan negri ini semakin jauh saja dari praktek hidup yang beretika dan bermoral.

Bisakah Kita membayangkannya, bagaimana anak anak penyerobot tadi kelak menjadi pemimpin negri ini?

Semoga ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua para orang tua juga para pendidik di seluruh tanah air tercinta. Untuk segera menyadari bahwa mengantri adalah pelajaran sederhana yang banyak sekali mengandung pelajaran hidup bagi anak & harus di latih hingga menjadi kebiasaan setiap anak Indonesia. Mari kita ajari generasi muda kita untuk mengantri, untuk Indonesia yang lebih baik...

14 comments:

Lina Ss said...

nahhh ini yg paling sering kusebelin, kadang anak2ku suka nanya why they dont want to line up? huhuhuhu. Aku jawab, they are people with no manner. Sepertinya di sekolah ilmu budi pekerti ini jadi nomor buncit krn lebih diutamakan nilai akademis. Di rumah, orang tua tidak pernah cerewet mengajarkan itu. Mengajar anak2 itu harus konsisten baik dalam kata2 maupun contoh. dan nanti hasilnya akan nampak ketika mrk dewasa. Nah kalo ortunya begitu bisa dibayangkan, we will have "barbarian" future dah

Nindya Safira Aztrida said...

Aku sering mbak, antriannya diserobot. Tapi yang benar-benar membekas ada tiga.

Pertama di bank B*I. Sudah ambil nomor antrian untuk ke CS. Tiba giliran saya, tiba-tiba orang berpakaian tentara langsung masuk ke meja CS. Aku protes ke satpam, " Lho, Pak, ini kan giliranku!" Dijawab satpam, "Udahlah dek, ngalah napa. Sabar sebentar aja. Tentara itu." Saya hardik tuh satpam. Kebetulan bank nya capem yang ruangannya kecil, jadi suara saya pasti kedengaran semua orang. "Dasar kalian ga tahu peraturan, orang udah antri enak aja diserobot!!" Saya bilang begitu ke arah satpam sambil keluar dari bank, berharap si bapak berpakaian tentara juga 'merasa'.

Yang kedua, di pom bensin. Saya ikut antrian, tiba-tiba motor baru datang langsung menyerobot dan dikasih pula sama operatornya. Kayaknyan sih kenal, sambil mengisi bensin mereka saling bertukar kabar. Saya marahin dong dengan suara keras, saya hardik kayak di bank itu lalu saya pergi tanpa mengisi bensin. Ada lagi di pom bensin, ibu-ibu mau nyerobot terus aku protes ke operatornya. Operatornya oun ingat kalau aku memang duluan ngantri. Ehmalah aku diomelin sama ibu-ibu itu. Dibilang ga sopan sama yang lebih tua. Walah, padahal aku cuma 'memperjuangkan' hakku lho. Dan juga ga ada ngomong ke si ibu. Aku cuma ngomong ke operatornya, "Kak, tadi aku yang duluan ngantri, jadi akulah yang harusnya diisi duluan." Ntah di mana letak ga sopannya. Huft....

@pipitpusayi said...

paling sering ngalamin kejadian kayak gini pas di pom bensin bu, kesel rasanya, apalagi kalau udah antri panjang plus panas2an, eh ada orang yg tiba2 nyrebot lewat barisan samping.

kunjungan perdana bu :)

Santi Dewi said...

memang betul ya, budaya antri di negara kita sangat rendah. Jangankan yg pendidikannya kurang, kadang yang pendidikannya tinggi pun masih senang menyerobot.

enny said...

Mbak Santi, kalau dipikir pikir ,soal budaya antri sebenarnya bukan masalah dari seberapa tinggi pendidikan orang ya. Tapi memang berpulang dari manusianya itu snediri.

enny said...

@Lina Ss
Kita memang sering ngelus dada dengan hal paling sederhana tapi berjuta dampak ini, tak menjadi budaya tinggi di negri yang katanya penuh toleransi.

enny said...

@Nindya Safira, oww..ternyata di BAnk juga bisa gitu ya. Memang pantasnya disemprott ya..hehe

enny said...

@Pipitpusai, makasih juga kunjungannya. Kalau soal antrian di pom bensin, Saya juga pernah mengalami. Melototpun tak mendapat hasil mereka tau kesalahannya..:)

melissa natalie said...

dari mengantri saya banyak yang bisa dipelajari yah mbak :) nice post

enny said...

Mbak Melisa, makasih dah mampir. Benang merah dari postingan ini adalah bahwa Kita bisa belajar menghargai hak orang lain dari mengantri.

Keke Naima said...

kesadaran kita utk mengantri memang masi rendah. Hrs ada gerakan "Sadar Nasional" kyknya. Krn kl gak percuma aja walopun udah pk alat yg canggih sekalipun

Anita Sari said...

saya pernah baca soal yang australia itu di pesan yang dikirim berantai di whatsapp, keren ya mereka :D

satu lagi budaya jelek orang indonesia: buang sampah sembarangan.

solusi rumah tangga said...

Sekarng moral dan pendidikan karakter yang inilah yang dipandang kurang untuk bangsa indonesia dimana rakyat indonesia lebih mementingkan nilau unas nilai matematik bahasa indo dan lainnya sedngkan moral prilaku baik disiplin dan pendidikan karakter lainnya ditinggalkan

fanny fristhika nila said...

suka ama tulisan ini ^o^.. temen2ku di kantor ya mbak, itu kyk berlomba2 membanggakan anak2nya yg udh bisa calistung walo umur masih 3, ato 4 thn.. smntara anakku jujurnya masih blm lancar :). bukan aku g mau ngajarin, tp krn aku ngeliat pendidikan moral jauuuuuh lbh penting drpd calistung yg mereka bangga2in itu.. aku srg ajak anak traveling, tujuannya ya supaya dia bisa ngeliat budaya yg baik yg ada di negara tersebut.. buang sampah pada tempatnya, antri, yang begitu itu... jd dia bisa belajar melihat dunia secara lgs. anak2 skr, bnyk bgt yg ga bia ngantri, yg buang sampah juga seenak nya aja -__-. ntahlah diajarin apa aja ama ortunya..