Showing posts with label my story. Show all posts
Showing posts with label my story. Show all posts

Wednesday, September 20, 2017

Poligami

Jam sudah menunjukkan pukul 07.30 pagi. Aku masih beberes. Menutup tirai warkop. Maklum sekarang bulan ramadan. Menutup tirai salah satu cara menghormati orang yang berpuasa.
Dua orang wanita berhijab memasuki warkop. Menanyakan apakah kopi sudah bisa dipesan. Tentu kujawab sudah, asal mereka sabar sebentar.karena air baru saja kujerang.
Sempat dan jelas kudengar percakapan mereka.

Perempuan pertama:"Semalam suamiku pulang dari rumah istri ke duanya dalam keadaan lusuh dan sedih. Aku tanya kenapa, jawabnya singkat, tapi membuat hatiku bersorak kegirangan.."ucapnya dengan nada riang.
Teman si perempuan balik bertanya" Memang apa yang membuat suamimu sedih?"
"Istri ke duanya keguguran dikehamilan bulan ke 3"
Jawabnya bersemangat
Temannya menatap dengan wajah heran.
"Mendengar kabar seperti itu membuatmu bahagia??. Omaigat ..segitu bencinya kamu dengan madu suamimu. Bagaimana jika kamu yang mengalaminya, kehilangan janin calon buah hati?".


Kuletakkan dua cangkir white kopi di atas meja mereka, ketika hendak berlalu perempuan yang sedang bahagia itu menepuk lenganku.
"Eh mbak, memang saya salah ya kalau berbahagia di atas kesedihan istri ke dua suami saya. Bukankah itu balasan bagi seorang pelakor alias perebut laki orang. Tuhan maha adil kan, mbak?. Dia sedang menghukum istri kedua suami saya sebagai balasan setimpal atas perbuatannya"..katanya dengan nada meminta persetujuanku.

Monday, April 3, 2017

Pesona Pantai Sengigi Di Pulau Lombok


Pantai Senggigi ,
keelokan pantai yang masih tersimpan rapi di sudut ruangan otak kecilku. Kenangan akan sebuah kata kata tajam, bahwa kemiskinan tak akan mampu membawaku ke sana. Entah apakah aku sungguh benar benar ingin menapakkan jejak kakiku menyusuri sebuah daratan yang disebunya pantai. Kepalaku tertunduk dan mataku tak lepas dari view pantai senggigi yang ada di majalah penerbangan nasional. Majalah yang dikatakannya hanya orang kaya dan berpendidikan saja yang bisa memilikinya. 
"Maaf..." Cuma kata itu yang sanggup keluar dari mulutku sambil meletakkan majalah bercover eksklusive di atas meja ruang tamu. Ruangan besar dengan sofa empuk yang aku tak boleh mendudukinya. Sofa yang hanya diperuntukkan bagi tamu. Ah...akupun tamu bukan, Ning?. Aku tamu yang masih berstatus keluarga bagimu, kita sedarah.. Hanya nasibmu lebih baik dari nasibku. Bersuamikan pria mapan telah membuatmu terentas dari sesaknya gubuk rumah kita. Dan jauh dari hingar bingar perut kelaparan.

Saturday, February 18, 2017

Menegakkan Keadilan

Menegakkan keadilan bukan hanya ranah dari sebuah negara dan merupakan kewajiban bagi para pemimpinnya. Dalam sebuah keluarga, keadilan juga harus ditegakkan. Begitu protes anak gadis ketika dirinya merasa bahwa emaknya ini tak berlaku adil terhadapnya, antara dia dan adiknya...
Ini Allah hanya menitipkan 2 anak, gimana ibu bapak saya dulu yang punya 12 anak, ya?.
Apakah sebagai seorang ibu saya merasa sedih dan terasa tertampar?, mungkin iya, tapi rasanya harus lebih banyak koreksi diri. Mengoreksi dengan hati dan kepala jernih. Apakah benar selama ini saya sebagai seorang ibu telah berlaku tidak adil kepada anak anak. Ibunya ini perempuan biasa yang memiliki banyak kekurangan dan harus memikirkan banyak hal. Im not a super mom.



Tuesday, August 9, 2016

Geliat Uang Rakyat





Geliat uang rakyat ada di sini, pasar krempyeng yang hanya buka di sore hari. Iseng aja sore ini mengamati mereka, bagaimana mulai mengkais rejeki. Membuka lapak di sore hari kala matahari masih menyengat kulit. Bagaimana tidak, sore hari matahari dari arah barat begitu menantang semangat para penjual yang posisi lapaknya menghadap timur. Walhasil, kebanyakan mereka menamengi diri dengan tenda biru.

Mari kutunjukkan satu persatu, lapak penjual di pasar depan warkopku.
Pasar ini terletak di jl Raya Sungon, Suko Sidoarjo. Meski awal mulanya hanya segelintir orang yang menjadi pelopor, namun sekarang sudah makin banyak saja pedagang yang berjualan. Aneka macam jualannya. Dari ujung utara, lapak pedagang kuliner. Ada nasi goreng, tahu tek, lontong mie, bakso, sate bakso, sampai sandal jepit. Xixixix...ora nyambung aturan penataannya. Tapi yo rapopolah, ini ibaratnya lahan sedekah sementara. Karena pemilik jalan adalah pihak developr perumahan di depannya.



Saya memakai istilah itu bukan tanpa sebab. Karena pihak developer sama sekali tidak ikut campur dalam penataan, keamanan, dan kebersihannya. Apalagi retribusinya. Semua diserahkan pada pihak wakil dari masyarakat di dusun ini. Ibaratnya, idep idep membantu roda perekonomian pedagang yang mayoritas warga dusun Sungon.

Lanjut...
Tepat di depan warkopku ada buuuuur cang ijooo. Yups..bubur kacang ijo. Rasanya gak beda jauh sama bubur kacang ijo yang lain. Pernah nyoba, tapi kayaknya lidahku kurang suka. Emmm...kurang legit keknya. Sebelah kanan burcangjo, ada penjual minuman, mulai dari kopi sampai es pop..pop..deelel. Hanya bermodal meja kecil dan etalase kecil yang jual selalu bawa anak kecil dan suami yang badannya jauh lebih kecil dari istrinya...ok fine abaikan. ..wkwkwk. Tapi jangan salah, biar semuanya kecil tapi rejekinya gede lhoo, laris manis. Kenapaaa..? Karena jualnya tepat di sebelah Odong Odong. Yang berkerumun jelas anak anak balita bersama ayah ibunya. Odong odongnya berupa 1 gerbong kereta api. Muter aja dengan lampu warna warni kerlap kerlip. Anak kecil yang liat pasti matanya berbinar dan suaranya kenceng minta naik odong odong. Masa kecil sayahh ..kagak ada macam tuh..:(

Lapak urutan kesekian after odong odong adalah tukang ayam dan sayur. Kalau menjelang orang pulang kerja, nih lapak rame banget. Tentu saja begitu, karena kualitas daging ayamnya, sangat bagus, sayur sayuran juga masih fresh from the garden. Ikan, tahu tempe dan perbumbuan lengkap di sini. Soal harga, gak usah khawatir. Masih sesuai dengan harga index saham. Jadi para emak.yang selama dalam pulang kerja mikir besok mau masak apa, sila ke sini aja. Banyak pilihan, mo ikan lele siap goreng, ayam siap masak dan siap saji. Semua ayak di diek kata urang Sunda, mah.

Naah, sebelah lapak sayur ada penjual daleman. Iyaa..barang daleman, trus di sebelah kanannya balik ke kuliner. Soto daging Madura, es degan, es oyen sampai bakso is the food of my country. Tak ketinggalan desertnya roti Bandung dan buah.

Pokoknya di sini segala macam ada. One stop shopping dah. Lumayan cepat perputaran duitnya. Akses jalan yang bagus dan dua arah. Ke arah selatan banyak perumahan baru. Arah ke utara menuju kota. Jadi kaum urban yang sepulang kerja dan.melewati jalan ini, dipastikan berhenti sejenak untuk belanja dan beristirahat menikmati kuliner.

Geliat uang di sini bisa dibilang cepat, meskipun tak jarang terkena imbas pergolakan ekonomi. Naik turunnya harga sembako dan pangan lainnya berefek pada turunnya pembeli atau konsumen. Merekalah pedagang kecil yang tak patah arang. Tetap gigih mengkais rejeki, karena bagi mereka rejeki tak tergantung pada kebijakan pemerintah yang berjilid jilid, namun Allahlah yang maha pemberi rejeki dan sang pengatur.

Tak mudah bagi penjual lapak, di manapun mereka menjajakan dagangannya. Sekarang jualannya laku keras, esok belum tentu. Tak jarang pula, mereka harus terbelit rentenir untuk bertahan hidup. Jangan salah, para pemilik modal menengah ke bawah, bisa bergerilya pula di pasar krempyeng seperti ini di seluruh negeri ini. Mengiming imingi pinjaman tanpa agunan dengan bunga yang kalau dihitung hitung tak lebih baik dari pinjaman seorang rentenir. Memang mudah prosesnya, saling percaya adalah landasannya. Dan tentu saja, keikhlasan bagi peminjamannya. Iya,  ikhlas untuk membayar bunga yang makin beranak pinak jika mereka terlambat membayar pinjaman.
Apalagi sistim pembayarannya adalah harian, atau setiap hari harus setor hasil penjualan, bila tak bisa hari ini, esok hari mereka harus membayar dobel...kebayang beratnya meminjam dana di sektor semacam ini.

Koperasi sebagai wadah perekonomian kecil, seharusaya bisa lebih digalakkan lagi. Karena geliat perekonomian rakyat kecilah roda perekonomian negara ini mampu bertahan hingga saat ini.
Tanpa mereka perputaran uang di tingkat atas akan tersendat. Mari galakkan lagi koperasi.







Tuesday, August 2, 2016

Foto Lama Semangat Baru

Entah kenapa, hari ini pingin liat foto foto jadul. Bukan karena ogah mufon. Toh sebenarnya mufon sudah dilakukan beberapa tahun lalu. Dari sekian banyak foto yang sudah ter"scan" dan ter"save" di folder hape. Mata lebih lama mencermati foto pas jaman mantenan dulu. Mencermati tata rias akad nikah, gaya tatanan sanggul ala kanjeng mami. Kebaya anggun berwarna putih tulang, makin merampingkan tubuh yang dulu sudah kurus banget. Alis yang melengkung bak bulan sabit, seakan kontras dengan wajah ala cina. Dan lihatlah polesan lipstik yang menghias bibir. Mirip kanibal habis makan ayam segar. Secara keseluruhan sih nampak fine fine aja. (Untuk ukuran kala itu).

Lalu mata melirik pada foto sosok lelaki di sebelah yang tengah memakai jas. Tubuhnya terlihat lebih kurus. Cukup tampan dengan alis tebalnya. Wajah khas lelaki Banjar, putih bersih.
Wajah itu membuat hati tiba tiba berkecamuk. Mengingat badai yang tiba tiba nengempaskan perahu kecil. Dan karam diterjang ombak lautan. Berjuta kalimat pengandaian bemunculan di kepala. Bergulir tetesan kristal di wajah tua nan keriput. Menderu kalimat istighfar di ujung bibir yang penuh sampai di singgasana ArsyNya.

Jemari itu bergetar, folder itu harus segera ditutup. Berdiri tegak, menrik nafas positif. Lembaran telah berganti judul dan kisah. Meski hidup indah belum berbaik hati berpihak pada sisi yang diinginkan. Semangat dalam diri harus tetap dicanangkan. Ada nama dan wajah baru yang harus dipikirkan. Ada sosok hasi biologis yang harus dihantarkan menuju impian.

Friday, April 1, 2016

Di Dadamu



Suatu ketika, di sore hari yang cerah
kita menatap langit berwarna putih.
Kamu berkata,
"Ding, kamu lihat awan awan berarak  di sebelah timur itu?"
Aku hanya mengangguk, pikiranku sedang tidak sanggup mencerna indahnya langit sore itu.
Kamu lanjutkan tanya,
"Kamu tahu artinya?"
Aku menggeleng, sambil mataku kupalingkan pada dada telanjangmu yang mulai berirama tak beraturan.
Kamu tersenyum...
"Angin mulai berarak, mengantar awan menuju lautan. Nanti malam bulan lebih ramah pada nelayan. Itu artinya, beberapa hari lagi kita bisa membelikan anak anak kita ikan dengan harga lebih ramah".
Kuhela nafas dalam dalam hampir tak bersuara.
Andai kamu tahu yang kupikirkan bukan soal ikan. Tapi dadamu yang telanjang dengan nafas yang tersengal.
Jemarimu mencari jemariku, kusambut dengan getar hati yang tak menentu.
Kita mungkin tak pernah sama dalam mengolah rasa. Karena hadirnyapun dari arah yang berbeda.
Wajahmu yang tirus dengan mata yang sipit, menatapku lekat  tepat di manik mataku. Jemarimu makin menguat meremas jemariku.
"Bersabarlah, jangan membawa lagi berkas berkas itu ke rumah sakit. Sakitku tak bisa disembuhkan. Tuhan, sudah berbaik hati memberikan perpanjangan waktu untuk nyawaku, agar aku bisa merasakan kasih sayangmu dan melihat anak anakku tumbuh. Aku hanya menunggu waktu..." .
Nafasmu makin tersengal, dadamu makin berlari kencang.
Sambil tersenyum,  kubangkit, lalu mengelus dadamu perlahan, menggosok dengan balsam. Hingga matamu terpejam dan nafasmu beraturan.
Sesaat kemudian, di sini di kamar mandi. Kutenangkan diri, menahan hati.
Berkelebat wajah buah hati.
Aku harus kuat, aku harus lebih dari yang dulu menghadapi apa yang sudah tercatat.

Wednesday, December 23, 2015

Happy Mother's Day

Kemarin, hari ibu menjadi trending topic dihampir semua media sosial. Meme tentang hari ibu juga berseliweran bikin ngaca dan menertawakan diri sendiri. Hari ibu, tak pernah menjadikanku sebagai hari special. Sama sekali. Bukan aku tak menghargai ibu yang sudah melahirkanku. Buatku, berbakti terhadap beliau lebih berarti daripada sekedar seremonial pengucapan di wall medsos. Ah, bukan bermaksud sinisme ya. Aku sendiripun seorang ibu yang telah melahirkan dua orang anak. Tak pernah aku mengajarkan mereka untuk mengucapkan selamat hari ibu pada ibunya ini. Namun sejak mereka duduk di bangku taman kanak kanak, mereka mengenal hari ibu. Mungkin ibu guru meekalah yang mengajarkan untuk mengucapkan hari ibu pada ibu tercintanya. Sebagai penghormatan atas begitu besarnya kasih sayang dan pengorbanan pada perempuan yang tlah berstatus sebagia seorang ibu.

 Awal mengucapkan selamat hari ibu, kedua buah hatiku memberikan sekuntum bunga rumput liar yang mereka ambil dari halaman rumah kosong di sebelah rumah. Diberikannya padaku saat emaknya ini nyuci dekat sumur di belakang rumah. Terharu? ya pastilah. Karena selain mendapatkan bunga dan ucapan, pelukan erat merekalah yang membuatku semakin bangga menjadi seorang ibu. Tahun tahun berikutnya, kadang mereka inget kadang juga enggak.Tahun ini, mungkin menjadi tahun yang paling ,mengharukan bagiku. Sepagi kemarin, banyak ucapan selamat hari ibu via sms, wall medsos sampe wassap. Sambil mengaduk kopi, pikiranku melayang pada berbagai masalah yang aku hadapi sebagai seorang ibu dari 2 remaja yang sedang banyak menuntut, mencari perhatian, dan banyak maunya. Aku  bukanlah ibu yang hebat apalagi istimewa, rasanya tak pantaslah diri ini mendapatkan ucapan selamat hari ibu. 

Namun bukan anakku kalau tak bisa memberi kejutan, meski beberapa hari ini kami mengalami konflik kecil.
Anak lanang yang lebih dahulu memberi kejutan. Mendatangiku yang sedang megawe di warkop kecil kami, dia mengucapkan selamat hari ibu dengan cium dan peluk erat di hadapan prngunjung, tentu saja melihat adegan kami berdua, suasana menjadi riuh dan menghangatkan suasana warkop. Coklat putih silverqueen menjadi simbol cintanya pada seorang ibu. Yaahh..meskipun dia harus merogoh tabungannya. Saat kutanya, apakah dia punya uang untuk membeli sebatang coklat. Karena uang jajan yang kuberi tidaklah banyak. Anakku hanya tersenyum, dan berkata .."Aku ikhlas bund, lagian kalau uangku habis kan tinggal minta bunda".
Ow..oww

Wednesday, February 18, 2015

New Header Blog



Heiii…heiii...heii
Ulaaalaaa
Senengnya dapat header baru buatan mak Annisa Stevani. 
Header blog yang pas dengan keinginan. Duiihh pinter banget sih mak mengekspresikan apa yang kumau. Sebagai agenda dari The Happiness Project  memberikan kebahagiaan buat orang lain dan berbagi agar makin semangat ngeblognya.




Sengaja memilih header dengan tema menatap sebuah jembatan panjang yang terbentang antara dua pulau. Filosofi yang selalu menatap masa depan dengan semangat dan terus menjembatani semua perbedaan dengan pandangan positif. Bahwa apapun perbedaan di bumi ini akan menjadi warna dari sebuah kehidupan yang harmonis. 

Begitu juga dengan taglinenya, love, hurts and happiness. Ketiga kata yang selalu ada dalam tiap hela nafas kehidupan manusia. Hampir tak terpisahkan. Cinta , sakit dan kebahagiaan. Cinta kadang memang menyakitkan. Tak peduli kepada siapa cinta itu bertaut. Cinta tak selamanya membawa tawa. Namun di balik itu semu cinta dan sakit pasti kan bermuara pada sebuah kebahagiaan. 
Kebahagiaan yang kan digapai oleh manusia, apapun yang menghadang di depannya.

Badewe, apapun tema dan tagline sebuah blog. Berharap menulis dan menulis mampu membuat energi positif untuk selalu menuliskan tentang kebaikan yang mungkin bermanfaat bagi pembacanya.
Do small thing for  big something.

Faneli, makasih lagi tuk mak Icha. Dibikinin lagi sebagai alternatif lain juga mauuu....
#nglunjak
Bagi yang pingin di bikinin, silahkan deh berkunjung pada link dan banner The Happiness Project.
Disana ada contoh header blog yang udah dikerjain buat para emak blogger. Yuk silaturahmi antar blogger. Akan makin banyak ilmu, manfaat dan rejeki yang kita dapat. Salah satunya, ya ini...dibikinin header blog gratis..
:D 

Cheeerrrs

INVICTUS

Portrait of William Ernest Henley 

It matters not how strait the gate
How charged with punishments the scroll
I am the master of my fate
I am the captain of my soul

 Tidak peduli betapa sulitnya rintangan menghadang
Bagaimanapun hukuman dijatuhkan
Aku adalah tuan bagi nasibku
Aku adalah kapten bagi jiwaku
( William Ernest Henley, 1875).


Menemukan sebait puisi pada sebuah koran ternama negri ini. puisi yang menginspirasi seorang presiden Afrika Selatan, Nelson Mandeela yang mampu membuka pemikirannya meski dia ada di balik jeruji penjara.  Membuat mata Saya jadi terbuka, bahwa penjara bukanlah tempat yang membuat orang menjadi  terpenjara juga pikiran , hati dan jiwanya.  

Kalau yang terpenjara saja mampu mendongkrak semangatnya untuk bisa melakukan perubahan untuk sebuah Negara, mengapa kita yang bebas tak terlecut untuk mampu membawa diri menjadi manusia tangguh dalam menghadapi berbagai situasi. 

Mungkin selama ini hanya keluhan yang tercuat akan kondisi yang tak sejalan dengan kemauan. Semua seolah ada di luar batas kemampuan. Pasrah dan meratapi nasib. Invictus yang artinya tak terkalahkan, membuat saya jadi mengerti, nasib seseorang ada di tangannya  sendiri. Apapun keputusan yang diambil dan penuh resiko adalah bagian dari proses pendewasaan. 

Tak asal mengambil keputusan, tapi penuh perhitungan dan berani menghadapi resiko. Bukan hanya berdampak pada diri sendiri dan keluarga, tapi juga berdampak pada sosial sekitar. Kalau mengingat semua itu, rasanya saya tak akan sanggup berdiri seperti saat ini. Keputusan yang bedampak pada goyahnya sebuah keluarga. Secara fisik dan piskis sangat melelahkan saya rasa hampir tiga tahun ini.

Namun keyakinan kuat, bahwa Tuhan beserta saya dan anak anak saya. Saya tak salah mengambil keputusan menggerakkan kemana perahu kecil ini akan berlabuh. Biarlah Tuhan meniupkan angin dan memberikan tenaga lebih agar perahu ini selamat sampai tujuan. Nasib ada di tangan saya, maka apapun yang terjadi menjadi tanggung jawab si pengambil keputusan. Maka ancaman, tantangan dan berbagai masalah lain akan saya hadapi untuk melindungi orang orang yang saya cintai.

Terkadang sebuah keputusan memang tidaklah populer, bersinggungan dengan adat, tradisi dan keyakinan pihak lain. Namun bila kita mampu meyakinkan bahwa kita mampu bertanggung jawab maka semua akan berjalan pada relnya.




Bait terakhir puisi yang berjudul INVICTUS,



Aku adalah tuan bagi nasibku
Aku adalah kapten bagi jiwaku

Penginspirasi untuk terus melaju sebagai kapten perahu kecil ini melanjutkan perjalanan menuju dermaga berjuta impian.






Friday, January 9, 2015

Happy New Years 2015

Gempita hingar bingar perayaan tahun baru tlah lewat. Yang ada hanya sisa kenangan indahnya kebersamaan saat merayakannya dan harapan penuh akan sebuah kesuksesan disepanjang tahun 2015.
Bukan sebuah tradisi yang harus dilakukan memang, berkumpul bersama keluarga dan sahabat menyalakan kembang api disertai tawa bahagia , perasaan takjub akan binar kembang api dan mercon yang dinyalakan. Tapi filosofinya adalah, teruslah bersama berbagi suka dan duka dalam meraih semua harapan dan impian. Bergandengan tangan tanpa kenal lelah untuk sebuah kebaikan dalam perjalanan hidup.

Bagiku, perayaan tahun ini bukan terkesan pada berapa uang my brayku, yang tlah terbakar hanya demi menyalakan kembang api dan mercon dengan warna pijar pijar dan suaranya yang sungguh fantastis di mataku. Dia hanya ingin melihat wajah anak dan cucunya terlihat bahagia. thats it. Yang membat kubahagia adalah, akhirnya...dan akhirnya, aku bisa kembali berada di tengah keluarga besarku. Perlahan, tangan dan dada itu kembali terbuka untukku dan anak anakku. Entah basa basi atau ketulusan yang adadi masing masing wajah brosis yang kutatap hari itu. Aku tak peduli, pikiranku hanya satu. Ini kulakukan demi anak anakku, agar tak terputus tali silaturahimnya dengan keluarga besarku.

Aku sangat mengerti akan kekecewaan semua brosis akan keputusan yang kuambil, hingga rela dijauhi serta dicaci aku terima dengan sedih. This is my life, am not childhood anymore. Dan tahun inilah saatnya aku harus bergerak lebih maju. Biarkan anjing menggonggong, aku tetap berlalu. Berpikir positif, badai pasti berlalu. Yang paling penting adalah, aku tak akan pernah menjauhkan ke dua buah hatiku dari tali silaturahim keluarga besarku.

Pembelajaran penuh hikmah, semua kepahitan aka berbuah manis bila kita mampu melaluinya dengan kesabaran dan doa tiada henti.  Tak perlu kebencian berbalas kebencian. Tak perlu caci berbalas maki. Meski ini semua belumlah sepenuhnya berlalu, paling tidak akan ada titik temu untuk saling bisa menerima takdir masing masing.

Thursday, November 20, 2014

Lebih Baik Sakit Hati Daripada Sakit Gigi




Ini kali ketiga aku mendatangi puskesmas untuk menambal gigi yang sudah berlubang. Berharap ini adalah segmen terakhir ritual penambalan yang membuat aku harus kuat menganga hingga rahangku sulit untuk digerakkan. Keadaan ini membatku sering dilanda penyesalan karena tak pandai dalam menjaga kesehatan gigi. Entah karena faktor usia ataukah memang aku yang tidak care soal kesehatan gigi. 

Menunggu di sebuah tempat pengobatan, apapun namanya, entah RS, poliklinik, atau puskesmas sekalipun bukanlah hal yang menyenangkan bagiku. Karena yang biasa terjadi adalah duduk diantara banyaknya pasien dengan beragam masalah kesehatan. Suka ngeri dengan beraneka macam penyakit yang beredar di tengah masyarakat. Tapi sekaligus bersyukur aku hampir tak pernah mengalami sakit serius di usiaku yang tak lagi muda. Apalagi ini menyangkut kesehatan gigi. Diam saja tanpa berinteraksi bukanlah kesukaanku. Namun untuk bicara banyak, mulut enggan terbuka karena rasa tak nyaman pada gigi.

Seorang nenek tua yang duduk di sampingkupun tak mampu membuat mulutku terbuka. Percakapan diawali dengan menanyakan apa sakitku yang kujawab dengan hanya menunjuk jari ke arah gigiku. Si nenek berkebaya coklat kusam mengangguk sambil bercerita bahwa giginyapun bermasalah. Dia ingin segera mencabutnya, karena sudah tak tahan dengan sakit yang tiap saat harus dirasakannya. Sarapan makan nasi jagung kesukaannya jadi tak nikmat lagi selama seminggu ini. Tidurpun tak nyenyak karena bila malam menjelang rasa senut makin menjadi. Apalagi cucu terkecil yang masih bayi, tangisannya kerap menambah beban sakit di gigi hingga kepalanya.

Tuesday, October 28, 2014

#BlogWalking Day One



Pagi ini kusapa para emak ketjeh di Kumpulan Emak Blogger (KEB). Lama tak menyambangi grup tercinta satu ini. So far, yang terjadi hanyalah stalking pembicaraan mereka. Mengikuti isu terhangat , whats going on di dunia perbloggeran. Yang paling gres adalah soal fee dari sebuah review produk. Nyimak aja pembicaraan para emak ini. Sambil ngikik dalam hati, menertawakan diri sendiri. Bagaimana awal mula jadi blogger dapat fee 15 ribu untuk membuat tulisan tentang kota Surabaya. Duit 15 ribupun ditransfer setelah tulisan disetujui, itupun dengan berkali kali warning di imel agar tulisanku direvisi, hanya karena tak sesuai dengan standart maunya klien. Jadi pembelajaran untuk bisa membedakan mana yang merasa jadi nyubi di dunia penulisan dan akhirnya bisa menghargai tulisan sendiri.

Kembali pada cerita pagi ini, yuuk mari Kita ngulik satu persatu sesi blogwalkingku pagi ini. Lebih dari 20 blog emak blogger harus Aku sambangi. Ya, harus!!!, karena ini sudah janjiku pada para emak untuk mengunjungi rumah mereka satu persatu. Rada ngos ngosan karena berjibaku dengan kerjaan, belajar membaca dan mengerti secara cepat tulisan mereka dan inet yang tak bersahabat.

Monday, October 20, 2014

Sugesti dan Positif Thinking

Pagi ini kukayuh sepeda menuju puskesmas dekat rumah sejak pukul 06.00 Wib. Puskesmas (PKM Sukodono) yang letaknya kurang lebih 3 km dari rumah ini kupikir akan memakan waktu hampir 45 menit. Karena aku mengayuh sepeda bukan tujuan racing, jadi kuputuskan untuk santai mengayuhnya dengan santai sambil menikmati pemandangan persawahan sepanjang jalan. Gigi yang mulai dari semalam senut senut sedikit berkurang rasa sakitnya, kuhalau dengan bernyanyi nyai kecil sambil menikmati perjalanan.

Ternyata perjalanan hanya memakn waktu 20 menit. Bisa dipastikan puskesmas yang buka 24 jam ini, masih sepi pengunjung. Waktu masih menunjukkan pukul 06.20 wib. Waktu yang lama untuk menunggu loket di buka. Segera Aku mencari bangku untuk sejenak kuisi waktu dengan membaca seperti biasanya. Pilihan buku yang tak kelar kelar juga untuk dibaca. Buku Dahsyatnya Ibadah Haji karya pakde Cholik blogger asal Surabaya. Segera kubuka bab tertanda " Lempar jumrah hari ke dua dan ketiga". Baru saja mataku menulusuri kalimat demi kalimat. Seorang ibu yang juga sedang menunggu menyapaku. Demi sebuah kesopanan Aku tutup buku dan mulai berbincang ringan dengan si ibu.

Thursday, March 27, 2014

Rindu

Rindu adalah perasaan ingin bertemu seseorang atau sesuatu. Kala rindu itu sudah makin merangsek ke seluruh penjuru nadi, apalah yang akan Kita lakukan ?. Tentu berupaya ingin bertemu..hallaa. Gak fokus gini mo nulis apa.

Rinduku kali ini adalah rindu menulis. Menuliskan segambreng isi kepala dan hati. Karena di media lain Aku sudah tak sanggup lakukan. Heii...bukankah semua orang akan jadi tau whats going on with you. Ah!!..whos care, beside me am a freedom as a human..

Sebulan ini Aku memang serasa terpenjara dalam ungkapkan semua rasa dan kata. Demi yang tercinta..ya sudahlah. Toh masih bisa menulis di blog, ikutan giveaway yang bejibun dan bikin kebiasaan gak fokusmakin menjadi..ehm.

Bukan hadiah yang kukejar, bukan banyaknya buku yang kuserbu. Tapi kadang suka blank apa yang harus kutulis hari ini. Kadang otak isinya udah pingin berhamburan, tapi sampai di depan lepi. Dan Giveaway mampu memberi inspirasi dan aku gak mandeg nulis.

Dan rindu menulis akan semakin menyusup ke dalam relung jiwa ..hallaah. Jadi keep writing.
Open my mind and be taft woman. anything happend

Tuesday, December 17, 2013

Cermin Buk Mus


Wanita paruh baya ini sering kujumpai di terminal Joyoboyo Surabaya. Wajahnya hitam manis, meski hampir separuh gigi depannya hilang tanpa jejak. Pembawaannya ramah, ceria dan ringan tangan untuk diminta pertolongan. Aku mengenalnya, sejak setiap hari  Aku naik angkot rit kedua menuju kantor setelah lyn pertama dari arah Sidoarjo tempat tinggalku.

Buk Mus panggilannya,  tiap pagi Dia berdinas di depan angkot lyn P jurusan Joyoboyo-ITS. Dia akan siap  mengatur penumpang agar mereka nyaman duduk menuju tempat kerjanya. Menjawab tanya para penumpang terminal, yang tidak tahu Lyn apa yang harus mereka naiki menuju tempat tujuan. Selalu membuat barisan tempat duduk agar para wanita tidak duduk di pinggir pintu angkot. Meminta penumpang pria untuk berkenan melindungi wanita, bertukar tempat duduk apabila ada penumpang wanita yang duduk di dekat pintu angkot dan  dengan sopan meminta mereka untuk tidak merokok. Agar semua penumpang merasa nyaman selama dalam perjalanan menuju tempat kerja. Ini adalah hal kecil yang Dia lakukan tanpa diminta oleh siapapun.

Friday, December 6, 2013

Pemenang Bagi Diri Sendiri



Hari ini nominasi pemenang Nominator #30HariBlogChallenge diumumkan di grup KEB. Sudah bisa ditebak nama nama mereka pasti nyantol sebagai nominator. Mereka rajin menulis di blog dan sudah melanglang buana di dunia perbloggeran. Nama yang familiar dan tulisannya memang layak disebut sebagai nominator di event ini.

Berharap namaku ada di list 20 besar, tapi ternyata gak ada. Kecewakah Aku? hehe bohong kalau itutidak kurasakan. Namun melihat nama nominatornya, sejujurnya Aku pantas untuk berbangga hati.
Ikut event ini bersama 157 blogger dari seluruh Indonesia, tiap minggu selalu ada nama yang tak masuk dalam seleksi. Dan melihat namaku selalu ada sampai pada tahap penutupan, itu sudah membuatku senang.

Tuesday, October 1, 2013

Tuhan dan Aku


Sudah setua ini masih suka mengkhayal? knapa enggak. Kegiatan mengkhayal adalah hal yang mengasyikkan dan murah. Khayalan tak perlu Kita beli, tak perlu aturan dan sesuatu yang free bangetttt. Karena yang tau apa yang Kita khayalkan ya Kita sendiri, sebaik dan sejorok apa khayalan itu. Bahkan khayalan tingkat tinggi bisa membuat manusia melakukan hal yang tak mungkin menjadi mungkin. Khayalan adalah doping bagi sang pembuat terobosan dan pencetus ide kreatif.

Monday, August 26, 2013

Budaya Antri

Postingan ini merupakan pengalaman pribadi dan pertama kali , saat Aku berobat pada sebuah Rumah sakit umum di kotaku. Sebagai warga negara yang sudah bisa membaca , Aku sangat malu melihat perilaku para pengunjung/pasien di  rumah sakit itu. Rumah sakit ini sudah cukup baik dalam mengatur antrian yang berjubel untuk para pasien dari segala kalangan. Baik pemakai Askes. jamsostek, maupun umum. Semua sudah tertata rapi. Nomor urut pengambilan kartupun sudah seperti antrian di Bank modern. Menggunakan alat modern, tinggal pencet dan keluarlah nomor antrian. 

Demikian pula ketika Kita sudah masuk di dalam ruangan untuk pembayaran loket, dan di bagian Poli apa Kita akan periksa. Panggilan satu persatu oleh suara merdu secara otomatis akan terdengar. Namun apa yang Aku lihat? semua pasien bergerombol di depan loket untuk mengambil kartu dan melakukan pembayaran. Karena baru pertama kali, tentu saja Aku menunggu hingga no antrianku dipanggil. 

Yang membuat Aku heran ,pengunjung yang memiliki no antrian diatasku sudah melenggang ke tiket pembayaran. Penasaran Aku maju ke depan loket yang sudah berjubel dengan para pengunjung. Dan busyeett, yang sudah dilayani adalah no antrian 20, 30,bahkan 50. Lha no antrian 9 ku kapan?. Bukanlah diatas layar nomor antrian yang dipanggil masih no 4?. Dengan berusaha tetap sopan Aku bertanya pada petugas loket.
"Mbak, sebenarnya berguna nggak sih, no antrian yang Saya pegang, kalau tidak buang saja tuh layar yang panggilan antrian pengunjung"
Dan, salah seorang pengunjung dengan santainya menjawab
"Wes gak berguna bu, siapa cepat dia dpat, gak usah ngantri"
Wow!!, Aku sangat takjub dengan jawaban pengunjung tersebut. Sedemikian parahkah penduduk negri ini tak menghargai budaya antri?

Salah seorang teman pernah bercerita saat Dia bersekolah di Australia,bahwa Seorang guru di Australia pernah berkata:
“Kami tidak perlu khawatir jika anak anak Kami tidak pintar dalam ilmu matematika, tapi kami jauh lebih khawatir jika mereka tidak pandai mengantri". 
Hmmm...apa maksudnya?

Friday, August 23, 2013

Makna Halal Bihalal, jangan berlalu begitu saja




Halal Bihalal Sahabat 21 from SMPN 21 Surabaya, at D'Cost Royal Plaza. 
Tampak sahabatku Yudi, Rulu <Dwi Endah dan yang lainnya. Mari menghabiskan santapan..


Sejarah halal bihalal
Sejarah asal mula halal bihalal ada beberapa versi. Menurut sebuah sumber yang dekat dengan Keraton Surakarta, bahwa tradisi halal bihalal mula-mula dirintis oleh KGPAA Mangkunegara I, yang terkenal dengan sebutan Pangeran Sambernyawa. Dalam rangka menghemat waktu, tenaga, pikiran, dan biaya, maka setelah salat Idul Fitri diadakan pertemuan antara Raja dengan para punggawa dan prajurit secara serentak di balai istana. Semua punggawa dan prajurit dengan tertib melakukan sungkem kepada raja dan permaisuri.
Apa yang dilakukan oleh Pangeran Sambernyawa itu kemudian ditiru oleh organisasi-organisasi Islam, dengan istilah halal bihalal. Kemudian instansi-instansi pemerintah/swasta juga mengadakan halal bihalal, yang pesertanya meliputi warga masyarakat dari berbagai pemeluk agama.

Wednesday, July 17, 2013

Andai ini Ramadhan Terakhirku




Dalam kurun duapuluh tahun lebih terakhir ini,entah untuk keberapa kalinya ,pada bulan ramadhan keluarga besarku selalu saja mengalami ujian saat menjalani ibadah puasa.
Di awali pada tahun 1987,saat adik bungsu Kami meninggal tepat di akhir bulan ramadhan karena sakit tumor otak,dua tahun kemudian Ayah Kami. Dan tahun selanjutnya,ramadhan seperti momok bagi Kami.

Kami menyambut bulan ramadhan selalu dengan suka cita, berkumpul  di rumah Ibu dan bersama sama berziarah ke makam Bapak dan adik bungsu Kami.Esoknya Kami akan makan sahur bersama dan berbuka puasa dengan hidangan yang sederhana namun nikmat tiada tara. Dan Ibu akan mulai bercerita,bagaimana Kami dulu melewati cerianya bulan ramadhan kepada para cucunya.

Namun bukan hanya itu yang Kami rasakan,Kamipun dirundung perasaan waswas.Ujian apalagikah dari Allah,yang akan Kami sekeluarga hadapi. Bertanya tanya Kami pada diri sendiri, Siapakah yang sakit ?siapa yang akan berpulang di bulan suci ini?. Namun semua pemikiran itu segera Kami buang jauh.Kami mengubahnya menjadi sugesti positif, Insya Allah ramadhan ini akan Kami lalui dengan keceriaan. Meski pada akhirnya,ujian Kami selalu saja datang.