Showing posts with label cerita secangkir kopi. Show all posts
Showing posts with label cerita secangkir kopi. Show all posts

Wednesday, November 16, 2016

Perempuan Barista

Barista




Kata barista berasal dari Italia yang artinya seseorang yang meracik dan membuat menyajikan kopi untuk bisa dinikmati oleh pelanggan. Barista berasal dari Bahasa Italia artinya “Pelayan Bar” yang menyajikan secangkir kopi espresso. Menilik dari pekerjaan seorang Barista adalah pekerjaan yang menarik. Bagaimana seorang Barista , harus mampu meracik dan meramu kopi dengan takaran yang pas, sehingga dapat dinikmati oleh pecinta kopi. 
Penjelasan di atas hanyalah sekelumit dari berbagai pengertian kata Barista dari satu negara saja. Sedangkan dibeberapa negara lain pengertiannya bisa jadi berbeda. Barista pekerjaannya biasanya di bar, café atau resto yang menonjolkan sajian minuman berbasis kopi. Lalu bagaimana dengan seseorang yang bekerja dalam dunia warung kopi. Seperti kita ketahui warung kopi sangat menjamur saat ini. Dan menjadi lahan bisnis yang sangat menjanjikan. Bahkan seorang pebisnis warkop, berani merogoh koceknya yang paling dalam untuk sekedar membuka warkop, asalkan letaknya strategis.

Tentu saja , perbedaannya dengan café yang memiliki barista professional dengan ilmu yang mumpuni dan jam terbang tinggi berbeda cara dengan pelayan di warkop. Namun pekerjaannya tetap sama, yaitu meramu dan menyajikannya kepada konsumen. Biasanya warkop tidak hanya menyajikan kopi instan sache yang beredar di pasaran, akan tetapi juga punya racikan kopi espresso serta penyajian yang berbeda pula di tiap daerah di Indonesia.
Setelah searching kesana kemari mencari tahu apa itu barista. Ada beberapa perbedaan antara barista warkop dan café. Barista bar atau café bekerja lebih banyak di belakang layar. Mereka tidak menyajikan langsung kepada pembeli. Barista adalah ujung tombak dari sebuah café kopi. Sedangkan barista warung kopi, dia menjalankan beberapa pekerjaan sekaligus. Bahkan hampir semua aktifitas warkop dia handle. Mulai dari mempersiapkan perangkat , bahan kopi hingga meja meja yang harus dirapikan dan dibersihkan sebelum pengunjung datang. Semua hal yang ada di warkop, baristanyalah yang mempersiapkan. 
Dan yang menjadikan barista warkop lebih unik daripada barista bar atau café adalah, seorang barista warkop harus bisa menjaga komunikasi yang baik dengan pengunjung. Membaca karakteristik tiap pelanggan, agar mereka merasa welcome di warkop kita. Dan bila barista warkop perempuan maca ana, tentu ini menjadi tantangan tersendiri. KArena kopi dan lelaki adalah satu paket yang tak  bisa dihindari.
Apabila Anda juga menjadi barista sebuah warkop yang imagenya terkadang tak begitu enak didengar, tetaplah menjadi barista yang terhormat , bagaimanapun pekerjaan barista adalah pekerjaan terhormat dan mulia. Karena dengan secangkir kopi ramuan Anda, seseorang akan mampu menghadapi harinya dengan semangat.
Salam Barista

Kopi Dan Koran



Kopi dan koran adalah 2 benda yang membentuk satu senyawa. Senyawa yang mewarnai aktifitas ngopi kita di pagi hari sebelum berangkat kerja dan beraktifitas di rumah bagi para ibu rumah tangga.
Kopi dan koran mengantarkan kita menuju cakrawala pengetahuan dan berita kekinian. Apa yang menjadi headline of today? Perekonomian yang membaik/makin lesu, pulau di balik asap yang kata pak presiden baru nampak bila hujan bangun dari tidur panjangnya, penambangan liar yang memakan korban, bahkan berita selebrita dengan sensasinya. Semua terhidang dan bisa kita nikmati tanpa perlu kita kunyah...

Kopi dan koran, dua benda yang bisa menumbuhkan minat baca yang mulai menurun bagi sebagian warga negara Indoneaia. Kenyataannya, bila ngopi di warkop yang free wifi sekalipun, koran akan menjadi santapan pertama yang wajib di baca sambil ngunyah gorengan.
Suka suka kita, mau membuka lembaran koran yang mana. Kalau saya, kolom sportainment wajib dibaca lebih dulu, agar tak pahpoh ketika para pengunjung warkop yang mayoritas lelaki membicarakan bola. Juga melirik pemain liga champion yang good looking.
So, apapun alasanmu ke warkop tetaplah menumbuhkan minat baca dalam dirimu.
Kopi dan koran akan menemani hari indahmu.

Tuesday, November 15, 2016

Ketika Memepersiapkan Masa Tua Tak Sesuai Impian

Sinar matahari pagi ini masih enggan memancar. Hujan semalam telah sanggup meninabobokan panas sinarnya. Langit masih berselimut mendung tipis. Semangat untuk mencari nafkah dalam diri, tetap kulecut, membuang rasa malas meninggalkan kamar sambil bergelut dengan selimut. Usai menyiapkan bekal kedua anak anak, membereskan rumah, mandi dan kulangkahkan kaki menuju tempatku mencari rejeki, warung kopi.
Sambil mengerjakan segala rutinitas dan ritual sebelum membuka warkop, kuputar lately by Stevie Wonder dari hapeku. Lagu yang syahdu cocok di pagi mendung ini. Kupikir ada saatnya  kumemanjakan telingaku sendiri, sebelum kumanjakan telinga pembeli dengan lagu dangdurt koplo. Usai membuka pintu warkop, kulayani satu persatu pesanan kopi untuk pembeli. Memang nikmat menikmati kopi pekat diudara dingin pagi ini. Kopi dan gorengan, adalah pasangan sempurna. 




Dari beberapa pembeli yang datang, masing masing tak hanya sibuk dengan gadget menikmati wifi, ada juga yang matanya terpaku pada berita koran pagi. Sebagian mengisi waktu ngobrol dengan temannya. Namun ada satu yang menarik pandanganku. Duduk di bale, seorang lelaki tua memandang jalanan depan warung kopi dengan pandangan kosong menerawang. Salah satu kebiasaanku untuk membuka kedekatan dengan pelanggan adalah mengajak mereka ngobrol sekedarnya. Pun dengan lelaki tua itu. Entah basa basi atau simpati. Kutanyakan kabarnya, apakah sehat dan baik baik saja hari ini. Meskipun aku tak pernah melihat lelaki tua itu sebelumnya. 

Saturday, October 29, 2016

Dibuang Sayang

Seperti biasa, siang hari di warkop adalah siang yang sibuk. Dua tangan harus melayani lebih dari 15 pembeli. Apakah hal itu biasa terjadi?, iya pasti. belum lagi kalau ada pembeli yang minta kopi untuk dibungkus dan dibawa pulang. Jujur saja terkadang saya kewalahan untuk melayani, tapi saya punya cara untuk gak panik ketika warkop dalam kondisi ramai, karena yakin mereka pasti akan sabar menunggu giliran kopi mereka terhidang dihadapan. Pelanggan sudah hapal, bahwa kopi tak akan terhidang lebih dari lima menit. Siapa pesan lebih dulu itulah yang akan mendapatkan pesanannya lebih cepat. Tak ada istilah nyerobot pesanan orang lain. Saya disiplin dalam hal satu ini. Meskipun yang memesan bukan pelanggan tetap, bial dia memesan lebih dahulu daripada pelanggan tetap. Saya akan melayaninya terlebih dahulu.




Jumat kemarin cuaca panas terik, usai shalat Jumat pembeli berdatangan. Tangan mulai bergerak cepat, gelas cangkir berdentiangan. Tangan menyentuh es dan terkadang terkena percikan air panas mendidih adalah sebuah rutinitas. Tangan bekerja, telinga berjaga. Mendengar pesanan pembeli tanpa memandang wajah. Kalau saja bisa mengeluh, nih kompor didepanku pasti sudah meneriakkan, betapa kejamnya aku memainkan pemantiknya. Tak henti kuputar ke kanan dan ke kiri. Pesanan tak hanya es dan kopi tapi juga mie. Hayati tak bo;leh lelah, Bang...:D :D

Wednesday, July 24, 2013

Ngopi Penyejuk Hati

Mobil yang Kami kendarai melaju dengan perlahan,tapi berbanding terbalik dengan pengemudi dan penumpang yang ada di dalamnya..Dia adalah Aku dan Dia ...belahan jiwaku. Kali ini kecemburuannya sungguh teraduk tapi terasa lembut bak adukan kopi tubruk. 

"Aku tak suka dengan semua ungkapan temanmu di facebook yang selalu memberimu semangat.."ucapnya datar. 
Aku tersenyum...cemburu? lagi? 

"Jawaban yang Aku inginkan,bukan senyuman. Jangan pernah lagi Kau jawab comentnya.Dengar dinda...", 
Dan mobil tiba-tiba terhenti...belum hilang kekagetanku,wajahku tersentuh dan mata kami saling menatap dekat. Mata belahan jiwaku menatapku tajam 
"Aku tak suka"suara baritonnya tegas terdengar. 
"Aku cemburu"lanjutnya. 
Sanubariku bergetar mendengar suaranya yang tegas,Tuhan...inilah rasa yang Aku rindukan. Bergetar dengan suaranya,berdesir menatap matanya. 
Mobil kembali berjalan perlahan,melewati tikungan,Kami terdiam untuk beberapa saat.