Membuka medsos pagi ini, ada status yang membuat batin mak jleb. Bukan masalah status mencela atau apa sih, wong statusnya cuma bilang kalau "banggalah menjadi seorang IRT, karena kesuksesan suami dan anak anakmu ada di tanganmu. Lalu di bawahnya sratusnya ditautka dengan status penulis produktif "Tere Liye"
Entah tersinggung entah apa namanya, yang pasti semalaman saya jadi berpikir, bahwa ternyata saya bukanlah sosok pure seorang ibu rumah tangga, pun juga bukan sosok seorang istri yang mampu membawa kesuksesan suaminya. Peran saya adalah sebagai perempuan berprofesi ambigu. Ora jelas kata orang jawa mah...

Ketidakjelasan profesi ini, membuat gak bisa tidur selama beberapa hari. Malam menjelang tidur sambil menatap langit kamar , berdebat dengan diri sendiri. Saya adalah seorang ibu dengan dua anak abegeh yang sangat membutuhkan perhatian extra. Perlu ditemani dan didengarkan. But, meninggalkan mereka untuk bekerja sebagai barista di warkop ini bukanlah perkara mudah. Pekerjaan yang harus dikerjakan selama hampir 15 jam per hari. Ada rasa bersalah yang besar membongkah di dada, namun akan lebih merasa bersalah ketika saya hanya melahirkan dan membesarkan anak anak tanpa bekal ilmu di masa depan mereka. Dan tak bisa dipungkiri, semua perlu uang/biaya untuk merealisasikannya.






