Showing posts with label My opinion. Show all posts
Showing posts with label My opinion. Show all posts

Tuesday, November 29, 2016

Kegalauan Seorang Ibu Yang Berprofesi Ambigu

Membuka medsos pagi ini, ada status yang membuat batin mak jleb. Bukan masalah status mencela atau apa sih, wong statusnya cuma bilang kalau "banggalah menjadi seorang IRT, karena kesuksesan suami dan anak anakmu ada di tanganmu. Lalu di bawahnya sratusnya ditautka dengan status penulis produktif "Tere Liye"
Entah tersinggung entah apa namanya, yang pasti semalaman saya jadi berpikir, bahwa ternyata saya   bukanlah sosok pure seorang ibu rumah tangga, pun juga bukan sosok seorang istri yang mampu membawa kesuksesan suaminya. Peran saya adalah sebagai perempuan berprofesi ambigu. Ora jelas kata orang jawa mah...







Ketidakjelasan profesi ini, membuat gak bisa tidur selama beberapa hari. Malam menjelang tidur sambil menatap  langit kamar , berdebat dengan diri sendiri. Saya adalah seorang ibu dengan dua anak abegeh yang sangat membutuhkan perhatian extra. Perlu ditemani dan didengarkan. But, meninggalkan mereka untuk bekerja sebagai barista di warkop ini bukanlah perkara mudah. Pekerjaan yang harus dikerjakan selama hampir 15 jam per hari. Ada rasa bersalah yang besar membongkah di dada, namun akan lebih merasa bersalah ketika saya hanya melahirkan dan membesarkan anak anak tanpa bekal ilmu di masa depan mereka. Dan tak bisa dipungkiri, semua perlu uang/biaya untuk merealisasikannya.
 

Saturday, November 5, 2016

Catatan 411 #Demo4November 2016 di Jakarta






 Suka sama jaket Jokowi , sih

Demo 4 November 2016 kemarin sedari pagi begitu indah, aman dan relatif kondusif. Saya terharu melihatnya. Headline semua stasiun tv menyiarkan secara langsung detik detik menuju demo yang dilakukan oleh pendemo (LSM ISlam maupun dari berbagai pesantren) yang datang dari penjuru negeri ini. Semua hanya ingin menyuarakan keadilan atas penistaan agama yang dilakukan oleh gubernur DKI Jakarta yang mulutnya memang perlu untuk dicuci . Mungkin karena kebiasaan dia yang suka bicara asal nyeplos dengan mengatas namakan tindakan tegas. Tapi ya begitulah, mulutmu harimaumu, semua ada masanya. Bila arogansimu telah berakhir masanya, ya berakhirlah. Bila kamu tak mengerti dan paham betul dengan apa yang kamu ucapkan, mbok ya gak usah nyuplik nyuplik ayat sebuah kitab suci. Anda


Demo ini murni sebagai sebuah pembelaan umat  Islam atas penistaan agama yang telah dilakukan oleh gubernur itu. Bukan atas kepentingan politik yang alih dalam rangka pilkada 2017. Berebut menduduki kursi yang prestisius di ibu kota. Sebenarnya, saya tidak begitu suka dengan berita semacam ini, apalagi lalu menulisnya di blog sebagai bagian dari uneg uneg. Berita dan provokasi di media sosial,, mulai dari meme sampai status yang menyudutkan dari pihak yang pro maupun yang kontra membuat saya jadi ingin menuliskannya sebagai catatan sejarah. Bagaimana seorang pemimpin yang notabene sebagai umat islam, tak cepat bereaksi atas isu SARA yang tengah beredar di negeri yang dipimpinnya. 

Monday, October 24, 2016

Belajar Bijak dari Pledoi Jessica Kumala Wongso

Transkrip pledoi pembelaan Jessica Kumala Wongso atas tuduhan pembunuhan terhadap Mirna Sadikin yang katanya sampai 4000 halaman membuat saya takjub. Ternyata seseorang dalam keadaan merasa terdzolimipun bisa menjadi penulis kreatif dadakan. :).
Apa isi pledoinya? tentu saja pembelaan terhadap segala tuduhan yang ditujukan padanya. Dan bersumpah bahwa dia tak mungkin melakukan hal tersebut. Karena Mirna adalah sahabat yang disayanginya. Bagaimana mungkin dia bisa melakukannya? sungguh tidak masuk akal. Juga menceritakan bagaimana kehidupannya begitu jungkir balik setelah peristiwa itu terjadi. Drama pengadilan harus dijalaninya dengan tabah dan menguras tenaga. Keluarganyapun menjadi ikut terusik. Kedamaian musnah dalam sekejap dan penyesalan, seandainya ia tak kembali ke Indonesia dan bertemu dengan Mirna di cafe Oliver. Dan pengandaian pengandaian lainnya.  Dalam hal ini tentu saja tujuannya adalah mengetuk pintu nurani hakim yang paling dalam agar mampu bersikap adil dalam mengetuk palu keputusan.

Dari membaca pledoi Jessica, diri ini tak hendak untuk menyororti siapa yang benar dan siapa yang salah. Seorang tersangka sah sah saja untuk membuat pledoi pembelaan beribu ribu lembar, dan seorang yang merasa menjadi korbanpun sah sah saja membuat tuduhan dengan bukti yang mendasar. Ada benang merah menurut saya yang bisa saya petik dari kasus ini. Bukan menyoal kasus pembunuhannya. Akan tetapi pada tuduhan yang akhirnya menggiring opini publik pada dugaan yang belum pasti kebenarannya. Mungkin adalah sifat manusia untuk mudah menghakimi manusia lain. Manusia yang cenderung untuk mudah mengoreksi dan mengukiti kesalahan manusia lain ketimbang kesalahan atau kekurangan diri sendiri. Bukankah memang membersihkan daki orang lain lebih mudah menggapainya daripada menggapai daki sendiri, apalagi daki di belakang tubuh kita?.

Saturday, June 4, 2016

Evelyn korban terkikisnya rasa peduli




Sabtu, 4 Juni 2016 hampir semua headline media elektronik maupun media cetak menurunkan berita penculikan Evelyn gadis berusia 8 tahun. Kasus ini terjadi di Tangerang, di depan sebuah mall dan sempat terkam oleh CCTV.

Saat kejadian drama penculikan ini, ada warga yang tengah melintas dan menyaksikannya. Ibunda evelyn sempat melawan para penculik dengan berteriak minta tolong. Perlawanan tidak seimbang karena pelaku diduga lebih dari 3 orang. Namun, hal tersebut tak menjadikan warga menolong ibu dan anak tersebut. Hingga akhirnya evelyn berhasil dibawa kabur oleh penculik. Sampai berita ini diturunkan, polisi belum berhasil menangkap pelaku dan menemukan di mana evelyn sekarang berada.

Terlepas dari apapun motif dibalik penculikan tersebut. Yang perlu dicermati adala, saat kejadian berlangsung dan di bawah tatapan beberapa warga, namun rak seorangpun dari mereka untuk bergerak menolong ibu dan anak tersebut. Dikarenakan terkikisnya rasa peduli di era sekarang ini.
Ada ketakutan yang mengubah seseorang menjadi rasa ketidakpedulian. Rasa takut menjadi salah satu korban kejahatan gang mereka tak tau menahu urusannya bila akan bertindak menolong orang lain.
 Daripada menjadi korban akibat sok jadi pahlawan kesiangan, dian dan menyaksikan adalah pilihan terbaik bagi beberapa orang saksi sebuah tindakan kejahatan.

Thursday, January 29, 2015

Sepiring Gado Gado "Mahabarata"





Siapa yang tak mengenal kisah Mahabarata yang hampir tiap hari tayang di televisi?, jangan tanyakan lagi, semua akan tunjuk tangan dan hapal siapa saja aktor India yang bermain di dalamya. Mungkin hanya sayalah yang tak pernah sekalipun mengikuti jalan cerita dan kehebohannya. Entahlah mengapa saya tak pernah tertarik untuk menontonnya. Bagi saya lebih menarik ketika menyaksikan wayang kulitnya ketimbang drama berserinya dengan pelakon wajah wajah yang membuat hati saya...ah entahlah, saya tak mampu menjabarkannya.

Sepiring gado gado " Mahabarata " tersaji di depan mata. Pada sebuah keluarga saudara ketika saya sedang berkunjung dan menginap di rumahnya. Ada anak, cucu, menantu berkumpul di depan televisi menanti dengan sabar tayangan ini muncul. Dengan komentar yang beraneka ragam. Kira kira kejutan apa yang akan terjadi di episode kali ini. Datar datar sajakah atau mampu membawa para pecintanya hingga terbuai ke alam  mimpi. Apalagi konon yang menjadi Krisna...bikin para wanita Indonesia tergila gila.

Monday, October 27, 2014

Presiden ke 7 dan Kabinet Bekerja

Selamat #HariBloggerNasional

Hari ini , 27 Otober diperingatai para blogger sebagai hari blogger Nasional. Untuk angkat topi pada diri sendiri, yang mangakui diri sebagai blogger. Rasanya tulisan soal Presiden ke 7 dan kabinet bekerja, masih sangat hangat dan manis untuk di posting. Baydewey, bukankah hari ini para mentri kabinet itu sedang dilantik ya. Wokelah, daripada blog memble dan tak ketjeh mari nulis apa dan bagaimana presiden ke 7 dan para pembantunya.


20 Oktober 2014 adalah bersejarah bagi bangsa ini. Negara "Indonesia" tercinta yang telah memilih presidennya yang ke 7. Besar harapan rakyat ada di pundak presiden terpilih Jokowi - Jusuf  Kalla. Hingar bingar untuk merayakannya  sudah terasa sedari pagi. Sebagai ibu rumah tangga, bukanlah acara pelantikan di gedung DPR MPR yang Aku nanti, bukan juga bagaimana ceremonial acara ramah tamah sesudahnya. Juga bukan pesta  yang begitu antusias digelar atas nama " Pesta Rakyat". Tapi lebih pada bagaimana perekonomian dan pendidikan negri ini kedepannya.



Aku memang bukan pemilih Jokowi- JK, yaah alasannya bukan karena Aku anti pati saat pemilihan. Terlebih karena perpindahan rumah ke tempat baru, dan tidak adanya surat pencoblosan dari RT tempat tinggal yang lama. Biasanya sih dapat pesan singkat dari bu erte, kalau surat pencoblosan bisa diambil di rumahnya. Seneng seneng aja dapat himbauan untuk mencoblos saat pemilihan wakil rakyat .Berasa diakui sebgaia warga negara..:D. Ya kalau bu ertenya gak kasih tahu mo gimana lagi. Mungkin beliau lagi sibuk, atau lagi gak punya pulsa.