Showing posts with label my poem. Show all posts
Showing posts with label my poem. Show all posts

Thursday, October 13, 2016

Ikhlas, Sabar Dan Tawakkal


Tugasku hanya menjadi pengantar kemana tujuan, impian dan harapanmu kan kau raih.
Aku...tetap di sini
Bila kau telah berada pada tempat tertnggi sesuai harapanmu, menjadikanmu sosok yang membanggakan dirimu dan sekitarmu
Aku...tetap di sini
Bla kau telah sampai pada perolehan materi , harkat dan martabat tertinggi
Aku...tetap di sini
Berjuang dengan kehidupanku sendiri
Bila kau akhirnya bahagia dengan pencapaianmu, akupun bahagia untukmu
karena memang itulah tujuanku
Dan aku...tetap di sini
Memandangmu dalam diam
semua kulakukan karena proses pembelajaran diri atas penerimaan takdirNya
Bagiku..
Ikhlas memerlukan energi cukup besar untuk meraihnya
Sabar memerlukan keluasan jiwa besar untuk meletakkan luka hanya sekedar sebuah ujan untuk meraih ridhoNya
Yakin ridhoNya akan teraih seiring dengan mampuku lalui semuanya
Tawakal pada keputusanNya adalah kunci untuk bisa berdamai dengan kenyataan

Wednesday, December 24, 2014

Lelakiku




Kau
Aku
Lelakiku

Mata tepejam
Gelayut wajah terbayang

Kau
Aku
Lelakiku

Telinga terbenam
Suara desah dan senandung
Bergaung tak hilang

Kau 
Aku
Lelakiku

Terbuka mata
Nampak jelas sisa semalam
Jemari bertaut dalam selimut
Hingga gelap bertaut mentari
Dekap bekap kehangatan
Tak jua
Tuntaskan rindu yang membebat 
Kedua kaki kita

Kau
Aku
Lelakiku

Wednesday, October 8, 2014

Dalam Pelukan Senja

Senja kembali datang hari ini
Seperti lalu lalu, menemaniku menunggumu. 
Di sini di depan rumah ini. 
Selalu saja penuh harap di wajah ke 44.
Bak perawan menanti sapaan hangat sang perjaka pujaan hati.

Harap tak pernah pupus meski tahu hanya dalam hitungan jam saja Kau mampir dalam pelukan.


Kau...
Ya Kau
Segenap sumsum ini tak pernah letih mengharap.
Bukan sentuh yang menggenapkan gejolak.
Namun sepenggal peluk yang menghangatkan seluruh pori jiwa .

Senja ini
Kau datang dengan peluk.





Monday, January 14, 2013

Tanyaku padaMu

Tuhan
Berhari hari Kutanya pada diri
Terbuat dari apakah hati hambaMu yang mengeras ini?
Bahkan batupun memiliki rongga
Seperti saat ini ,Kau ciptakan rongga dalam kehidupanKu
Cukup waktu jiwa mengering
Cukup waktu hati tak bergeming
Rongga yang menjadi ruang bermain di hati ini
Sungguh
Ku tak ingin menahannya
Aku ingin menikmatinyasampai sari pati tak tersisa
terus dan terus..
entah sampai kapan...

Tuhan,
Tiap helaan Kutanya diri
Meski Ku tahu bahwa semua ini akan berhenti dan berakhir
Namun biarkan kupu kupu ini menari bersama pelangi di rongga hatiku
Kau hadirkan senyumnya tengah bermain di dalamnya
Sebuah derita bermuara
Jika sedetik saja pesan tak hadir

Tuhan,
Kubertanya pada diri
Apakah dosa saat rongga mulai terkuak?
Mengapa pelangi muncul saat riak kehidupan mulai sirna

Tuhan,
Semoga semua yang pasti akan berakhir
Kau akhirkan dengan damai dan indah