November rain mengalun di dalam kamarku,Aku tersenyum untuk pagi ini. Sekarang hari kamis,hari yang selalu aku tunggu sejak kepergian ayah. Karena hanya hari kamislah area peristirahatanmu dibuka. Bila memaksakan untuk masukpun,pengunjung harus melalui pintu belakang dan melalui juru kunci yang terlihat enggan membukakan pintu gerbang tempat ini. Aku tak mau merepotkan pak tua si juru kunci pemakaman yang selalu bertelanjang dada,hingga tulang iganya yang bergaris garis tertutup kulitnya yang legam dan tipis itu nampak terlihat jelas. Wajahnya tidaklah terlalu ramah karena harus membuka gerbang pemakaman diluar waktu yang ditentukan.
Kupatut diri di depan kaca,sudahkah aku terlihat gagah seperti ayah?. Jaket tentara milikmu aku kenakan untuk memberi sedikit kehangatan pagi ini. Jaket berwarna hijau daun ini salah satu benda yang berhasil kuselamatkan dari anak laki-lakimu. Aku tak bisa mengalahkan anak laki-lakimu dalam berebut mendapatkan harta peninggalanmu. Masing-masing dari mereka berhasil mendapatkan motor,sepeda kumbang dan yang lainnya,bahkan dua celengan bambu berisi uang recehan hasil keringatmu semasa hidup yang tegak berdiri menyangga dapur rumah Kita sekalipun,telah berhasil mereka robohkan.
Tak mengapa Ayah,buatku yang kudapat lebih dari cukup,semuanya adalah benda bersejarah yang mengikat antara diriku dan dirimu. Dan hari ini Aku akan datang ke pusaramu,untuk yang terucap selam ini,dengan membawa benda yang mengikat sejarah antara Kita berdua.
Tak mengapa Ayah,buatku yang kudapat lebih dari cukup,semuanya adalah benda bersejarah yang mengikat antara diriku dan dirimu. Dan hari ini Aku akan datang ke pusaramu,untuk yang terucap selam ini,dengan membawa benda yang mengikat sejarah antara Kita berdua.
Area tempatmu bersemayam masih sepi pagi ini,tentu saja..para pengunjung biasanya akan datang selepas ashar. Dan mereka akan membawa buku yang berisikan surat firmaNya ,buku yang selalu dibaca saat berziarah. Tapi maaf Ayah,aku tidaklah sama seperti mereka. Hari ini aku tak hendak membaca surat itu,juga tak hendak menabur bunga,tapi hanya ingin duduk memandangi pusaramu dan melanjutkan berbagai tanya yang tak pernah terucap dalam 18 tahun mengenalmu.
