Friday, October 4, 2013

Bapak ..Balon terbangku

Bapak...
Aku mengenalmu hampir di 18 tahun usiaku. Meski tak banyak cerita tentang kedekatan Kita sebagai seorang Anak dan Bapaknya. Mengapa Kita tak dekat?...
Biarlah itu menjadi rahasia Kita berdua. Cukuplah Kita yang tau,. Dan di usia setua ini, Aku baru merasakan betapa besar sayangmu padaku. 

Pada anak gadismu yang telah dicuci otaknya bahwa Kau tak pernah menginginkanku dalam hidupmu. Karena Aku seorang perempuan. Gadis kecil yang kerap Kau usir dari rumah bersama Ibunya, bila terjadi peperangan antara kalian yang tak pernah Aku mengerti masalahnya.
Namun ironisnya, Aku tetap mengingat detil keromantisan Kita berdua di saat saat tertentu. Bahkan kenangan saat usiaku 5 tahun, masih menancap kuat dalam ingatanku.

Bapak...
Masih ingatkah Kau saat kecilku dulu sangat menyukai iklan mi instan dengan Ira Maya Sopha sebagai bintang iklannya?. Iklan yang selalu hadir dalam mimpi malamku. Bukan mie instan kuah yang terlihat nikmat membuatku begitu suka dengan iklan itu. Akan tetapi balon terbang yang membuatku terjerat dalam imaginasi tiada batas.

Bapak...
Waktu itu Kita memang belum memiliki televisi, karena yang Kau miliki bukan harta , melainkan jumlah anak yang mencapai dua belas biji. Sekampungpun hanya beberapa gelintir saja yang memilikinya. Dan salah satunya adalah tetangga di sebelah rumah Kita. Yang selalu baik hati membukakan pintu buatku untuk menonton acara film kartun kesukaanku. Woody woodpacker.

Dan Kau selalu heran saat Aku mendengar intro iklan mie instan Aku akan segera berlari menuju rumah tetangga Kita. Tak peduli apa yang tengah kukerjakan saat itu. Kau hanya menggeleng dengan jawabanku, kenapa Aku tiba tiba berlari menuju rumah tetanggaku yang tertutup pintunya, dan hanya mengintip lewat jendela.

Bapak...
Ketika hujan deras mengguyur bumi dan membanjiri kampung Kita, Kau kerap menggodaku kalau ada iklan itu Aku tak bisa lagi berlari menuju rumah tetangga. Kau tau itu yang membuatku sedih.

Namun di sore itu, Kau menyiapkan pundakmu untukku. Aku yang tengah demam, hanya bisa duduk termenung memandang banjir selutut kampung Kita.

" Ayo cepat naik ke pundak Bapak, acara TVnya sedang iklan, siapa tau sebentar lagi ada iklan mie kesayanganmu”, ajakmu
Ah Bapak, tak banyak berpikir, langsung Aku naik di atas pundakmu. Layaknya anak kecil lainnya, Akupun berteriak kegirangan merasakan sensasi pertama kalinya naik di pundakmu. Hilang semua rasa takutku akan sosokmu.

Bapak...
Kau langkahkan kaki menerjang banjir, menggendongku sampai di depan pintu tetangga. Aku tak dapat masuk karena memang pintu tengah mereka tutup. Tak apalah toh kaca jendela mereka yang besar masih bisa membuatku melihat balon udara yang dinaiki Ira Maya Sopha.

Tanyamu saat itu..
"Senang Nduuk...?“
Aku hanya mengangguk
" Sekarang ini cuma naik pundak Bapak ya, semoga suatu saat nanti Kamu bisa naik balon terbang menuju angkasa. Pergilah kemanapun Kamu suka, asal Kamu selalu bisa menjaga diri.."

Bapak...
Dulu Aku tak mengerti, tapi kini kusadari. Betapa garangmu, pukulan tanganmu dan sabetan di tubuhku. Mungkin hanya sebagai pelampiasan atas semua beban beratmu.
Terima kasih telah mengajarkan Aku atas apa arti mempertahankan diri dan bertahan hidup.

Bapak...
Aku rindu...


15 comments:

Pakde Cholik said...

Wah, galak tho bapak panjenengan Jeng.
Bapak ya tetap bapak, kita wajib menghormati ya jeng.
Semoga berjaya dalam GA
Salam hangat dari Surabaya

Semut Pelari said...

Terima Kasih sudah ikut dalam Semut Pelari 2nd Give Away :)

Imam Sujaswanto said...

Sukses untuk kompetisinya.

Saya masih mengumpulkan kekuatan untuk menyusulnya.

Semoga menang.

Salam.

JIM said...

wah... ada apa dengan bapaknya ini...

Enny ridha alin said...

Terima kasih Pakdhe,salam hangat juga dari Sidoarjo..:)

Enny ridha alin said...

Imam Susjaswanto, Ayoo kumpulkan kenanganmu bersama Bapak. Dan ikuti GAnya Semut pelari

Enny ridha alin said...

Jim...Bapakku adalah lelaki hebat.

Enny ridha alin said...

Semut Pelari...hope im the winner..:)

Pendar Bintang said...

Cerita yang sangat menyentuh, yaa
jadi sekarang kalau Bapaknya minta sesuatu jangan kebanyakan mikir ya...

Salam dari Bali :)

Senyum Syukur said...

Selamat menjadi pemenang pertama..

Damae said...

cerita yang menyentuh sekali, saya sampai meneteskan air mata membacanya. tulisan ini memang pantas menjadi juara pertama. selamat ya mbak, :)

enny said...

Pendar Cinta, Bapakku sudah Alm. Hanya kiriman doa dalam buket besar buat beliau tiap saat kupanjatkan..:)

enny said...

Senyum Syukur, Alhamdulillah..#Senyum terkembang

enny said...

Damae,...terima kasih, gak nyangka bisa menang #sambil sodorin tissue..

Rika Willy said...

bagussss.... selamat menang GA nya :)