Tuesday, February 11, 2014

Mall Impian Yang Ramah Lingkungan




Bulan Januari adalah bulan banjir untuk wajah ibukota negara Kita. Peristiwa dari tahun ke tahun tak pernah usai dengan kisah banjir dan pengungsinya. Kalau sudah begini pemimpin akan jadi bulan bulanan media karena dianggap tak becus bekerja untuk rakyat.Saling lempar pernyataan menjadikan keramaian tersendiri, saling menyalahkan menjadi momen paling apik bagi pertelevisian di Indonesia untuk mencari  rating tinggi dalam sebuah talk show. Berargumen seolah pendapat merekalah yang paling benar. Hampir tak ada ujung pangkalnya. 

Banyak terobosan yang dilakukan untuk mengatasi banjir. Ini bukan hanya dilakukan di kota Jakarta. Hampir tiap kota besar memiliki permasalahan yang sama. Banjir terjadi karena banyak sebab, diantaranya adalah tata kota yang membiarkan mall di Jakarta dan kota lainnya tumbuh subur tanpa mengindahkan area resapan pada tanah saat musim penghujan.



 credit


Pemerintah kota seharusnya memberikan kebijakan tertentu , misalnya hanya ada satu mall untuk jarak beberapa kilometer atau tak memiliki lebih dari satu mall untuk tiap satu kecamatan. Saat ini satu kota bisa memiliki lebih dari 10 lebih mall yang menawarkan berbagai kemudahan, yaitu one stop shopping. Pengunjung dimanjakan dengan berbagai fasilitas, tapi seringkali lupa akan dampaknya. Yakni semakin menumbuhkan sifat konsumtif pada masyarakat. 
 


Harapan untuk pengembang agar menggunakan 60% dari tanah mereka untuk membangun sebuah mall dan 40% untuk area playground, yaitu sebuah taman terbuka untuk pengunjung dengan tetap memberikan kenyamanan, keamanan dan kebersihan yang selalu terjaga. Penyediaan tempat sampah di setiap sudut yang tepat sarta tanaman/pohon yang mampu menahan dan menyerap air hujan, hingga mampu mengurangi polusi dan banjir. 

One stop shopping boleh berlanjut, namun tetap mengacu pada go green yang sesungguhnya. Fungsi mall bukan hanya sebagai tempat belanja tapi juga tempat rekreasi yang sehat. Kenyamanan tak hanya untuk pengunjung namun juga untuk warga sekitar. Hingga tak akan ada gesekan sosial dan saling menyalahkan dikemudian hari.


Tata kota hendaknya tak asal dalam membuat site plan . Semua harus dengan perencanaan yang matang. Tak asal memberikan IMB hanya demi kepentingan beberapa gelintir orang. Karena ini menyangkut hajat hidup orang banyak. 


“Tulisan ini diikutsertakan dalam My 1# GiveAway Rodamemn”

13 comments:

Napitupulu Monitorir said...

setuju banget mak, hajat hidup orang banyak harus diutamakan :) makasih sudah "berani bicara" yah :)

enny said...

Sama sama Mak, semoga ada pihak terkait yang melongok tulisan ini..:)

catatan kecilku said...

Nah ini penting Mak... tentang kesediaan pemilik mall membangun taman terbuka.

the others said...

Semakin banyaknya Mall yg menawarkan one stop shopping... makin tersisih pasar2 tradisional.

Sri Wahyuni said...

Setuju banget mak, tata kota memang hrs diatur sedemikian rupa untuk menghindari kemungkinan buruk yang akan terjadi

ione said...

memang lihat pertumbuhan mall sekarang bikin geleng-geleng kepala...setuju ama konsep 40 % untuk area playground

enny said...

Anonymous catatan kecilku , Saya belum menemukan mall dengan taman terbuka di daerah Saya. Paling tempat parkirnya yang dilebarin..:D

enny said...

The others, persaingan seperti ini tak bisa dihindari ya mbak. Semua karena kepentingan.

Enny ridha alin said...

@Sri Wahyuni,yang seperti ini seringkali tidak masuk dalam perencanaan yang matang oleh pengembang.

enny said...

Ione, makanya kalo dah sukses jangan bikin mall ya, makin sumpek aja

Titis Ayuningsih said...

setuju ! Harus ada taman terbuka alias penghijauan hehe

Euisry Noor said...

Sepakat dengan sarannya Mak... Padahal membuat mall tetap ramah lingkungan takkan merugikan bisnis ya. Justru bakal ada nilai plus jika bisnis bisa disinergikan dengan penghijauan & penataan kota... Salam :)

Ranii Saputra said...

setujuu.. biasanykan pengembang cuma mikirin pembangunan tanpa mikirin keseimbangan alamnya >.<