Tuesday, November 15, 2016

Kota Surabaya Bersejarah Dan Ngangenin #CityTravelling


 Hotel Ibis, Jembatan Merah Surabaya

Apa yang kita lakukan ketika sedang dalam suasana bosan selama dalam perjalanan menuju rumah dan terjebak dalam kemacetan?. Apalagi apabila ketika kita memakai transportasi umum yang suka ngetem berjam jam di sepanjang jalan atau halte sambil nyari penumpang. Selain berbincang ringan dengan sesama pemakai moda transportasi umum, saya selalu menyiapkan kamera hape. Apapun yang saya lihat dan saya rasa menarik untuk diabadikan, saya akan jepret. Inilah yang asiknya handphone jaman sekarang. Bukan cuma memberikan kenyamanan dalam pemakaian, tapi juga kenikmatan mengabadikan pemburu gambar sesuka hati semacam saya.
Jembatan Merah saksi sejarah kota Surabaya

Mari, saya tunjukkan bagaimana kebosanan bisa berubah menjadi keasyikan. Lelah sepulang dari sebuah rumah sakit di kota Gresik. Sedangkan rumah berada di kota Sidoarjo. Untuk menuju ke Sidoarjo dari kota Gresik naik angkutan umum memakan waktu hampir 3 jam lebih, apabila kita pulang sewaktu sore hari dan di jam pulang kerja. Kebetulan hari itu adalah hari kerja dan di jam trafic jams. Kebayang kan, suasana macetnya. Dari kota Gresik harus menuju terminal bus dan angkutan umum lainnya. Yaitu terminal Jembatan merah. Di terminal ini terkenal dengan sebutan JMP atau Jembatan merah plaza, karena di sini terdapat pasar grosir jembatan merah plaza. Kebanyakan berupa fashion. 


 Terminal Jembatan merah
 Jembatan Merah
Jembatan merah merupakan tempat bersejarah di Surabaya. Jembatan Merah menghubungkan Jalan Rajawali dan Jalan Kembang Jepun. Kawasan itu merupakan salah satu pusat perniagaan di Surabaya. Di Jalan Rajawali berdiri berbagai gedung perkantoran, perbankan dan lain-lain. Juga Hotel Ibis Surabaya berdiri kokoh di jalan tersebut.  
Ditahun 2003, di sebelah timur jembatan merah yang merupakan pusat perniagaan multi etnis berdiri pusat kuliner surabaya yang terkenal dengan sebutan kya kya. Kya kya mengisi kemeriahan kerlap kerlip malam hari kota Surabaya. Sepanjang malam berbagai kuliner khas Surabaya dan hiburan disajikan untuk warga Surabaya dan wisatawan mancanegara.

Lahir dan besar di Surabaya, membuat kerinduan pada kota ini tak pernah tuntas. Hanya sekedar melewati jalan penuh kenangan sudahlah cukup untuk mengobati kerinduan. Setelah melewati jembatan merah, bus antar kota membawa saya menyusuri Jl. Karet yang melewati sepanjang kalimas.Melewati tempat bersejarah seperti tugu pahlawan, yang terletak di jl. Pahlawan. MOnumen bersejarah yang menggambarkan bagaimana masyarakat Surabaya kala itu berjuang dengan senjata apa adanya seperti bambu runcing misalnya. Semangat ingin merdeka dan mengusir penjajah dari kota Surabaya begitu tinggi. 


Kota Surabaya banyak memiliki bangunan bersejarah peninggalan jaman Belanda yang masih dilestarikan dan terawat dengan baik. Diantaranya adalah PTP !X yang ada di Jl. Rajawali. Perkantoran di sepanjang jalan ini tak merubah bentuk bangunan sama sekali. Hanya renovasi yang memang sangat diperlukan, misal terkelupasnya cat, tidak merubah bentuk arsitek bangunannya.


 Gedung Bank Mandiri



Kantor Gubernur Jawa Timur Jl. Pahlawan Alun Alun Contong  Bubutan Surabaya


Gedung GRIMMS & CO

Restoran Grimm & Co yang terdiri dari 2 lantai untuk restoran dan ruang dansa. Orang Belanda memberi nama julukan Taartjespaleis (= istana kue tar) dan Smulhuis (= rumah makan enak).
Di dinding depan terdapat tulisan dalam bahasa Prancis Patissiers (= tukang kue) dan Cuisiniers (juru masak). Lalu ada tulisan dalam bahasa Latin Anno 1888 (--maksudnya didirikan pada tahun 1888). Para meneer (tuan) dan mevrouw (nyonya) kolonial senang main ke sini, begitu pun para elit pribumi. Klub militerDe Stadstuin Vereeniging. ( Perkumpulan Taman Kebonroyo) yang didirikan oleh Wiriadjojo dan Schronk pada zaman itu suka berkumpul di restoran ini.
Pada 1920-an restoran Grimm tutup dan berubah jadi bengkel mobil. Pada 1935 gedung direnovasi menjadi kantin Armada. Sekarang gedung lama sudah dibongkar dan sebuah gedung baru bergaya arsitektur. Neo Disneyland. dibangun kembali yaitu restoran Tai Chan. jo (Sumber Surabaya Online)

Usai melewati Jl. Pahlawan, bus kota berbelok ka arah kanan jl. Tembaan. Di sini pusat segala grosir. Sepanjang jalan banyak ruko yang geliat bisnisnya hingga manca negara. Ibarat kata bak palugada, apa lu mau di sini ada. Dan semua menawarkan harga grosir. Bus mulai melambat, karena banya masyarakar Sidoarjo yang berbelanja barang dagangannya di sini. Selain harga terjangkau juga kwalitas terjamin. Item yang dijual mulai dari spare part motor sampai mainan anak anak ada di sini. 

Perjalanan city travelling saya berakhir ketika bis melaju cepat menuju jalan tol Demak. Masih ada keseruan lain bagaimana menikmati keindahan kota Surabaya yang sarat sejarah perjuangan para pahlawannya. Next time saya akan ceritakan ketakjuban saya dengan kota yang makin asri berkat tangan dingin ibu walikota Tri Rismaharini.

0 comments: