Monday, June 10, 2013

Tak Lekang Oleh Waktu


                   Waktu bergulir tak mengenal kata toleransi, jam sudah menunjukkan pukul 09.00 WIB. Pasti Dia sudah menungguku di ruang tunggu stasiun Gubeng. Aku berlari sekuat tenaga mengejar bus kota jurusan Terminal Bungurasih - Joyoboyo. Aku harus segera sampai, sprint dari Joyoboyo Aku harus berganti angkot lagi menuju stasiun Gubeng. Cuaca kota Surabaya terasa garang sepagi ini. Berpeluh tubuh tak kugubris. Huffft akhirnya kakiku mencapai pintu bus kota dan disambut oleh tangan sang kondektur yang membantuku masuk disela sela berjubelnya penumpang. Kalau saja Pagi ini, dari atas balkon kamarku, si burung gereja menari dan berceloteh mengabarkan kedatangan kekasih yang kutunggu dalam setiap hela nafasku akan datang, Aku tak akan berburu dengan waktu.


Sepucuk surat cinta dari Kapten Bhirawaku, kuterima tiga hari lalu. 
Apa kabar Adinda..
Kuharap Kau masih setia menungguku sampai akhir tugasku dalam perdamaian
Aku akan segera datang melamarmu dan datang bersama Ayahku
Tanggal dan hari apa Aku datang?  Aku yakin Aku tak perlu memberitahumu tentang ini
Bila hati Kita masih menggenggam cinta, Kau pasti tahu dimana Aku sudah menunggu 
Salam hangat pelukku

Kapten Bhirawamu..

                  Tak sabar hati, merasakan hangat peluknya, Kau benar kekasihku. Cinta Kita telah menyatukan hati Kita. Aku selalu tahu kapan Kau hadir di hadapanku. Cukup hati Kita bicara dan burung gereja di atas balkonku mengabarkan kedatanganmu. Dan hari ini tepat 10 Juni di ulang tahunku Kau datang bersama Ayahmu, Membawa kabar bahagia dan cepasang cincin pertungan Kita. Hati berbunga, merangkai impian kan segera di depan mata. Ibukupun turut bahagia, bersemangat menyambut hari yang indah. Pesta sederhana untuk ulang tahun dan pertunangan putrinya.

              Aku cantik malam ini,itu bisikmu. Cincin telah melingkar di jari manisku. Kau kecup mesra jemariku. 
"Aku mencintaimu, terima kasih telah setia menungguku" ucapmu, Aih... Aku bak seorang putri malam ini. Aku tersipu malu dan mengatakan padamu akan mengambil minuman dingin di halaman pesta pertunagan Kita, karena rasa malu dan bahagia ini tiba tiba membuatku haus. Kulangkahkan kaki ke halaman belakang, namun sesampai disana  mataku melihat pemandangan janggal. Ibuku dan Ayahmu berpelukan mesra.  Mesra melepas rasa rindu. 
Samar kudengar " Jadi calon menantuku adalah putriku sendiri?, Kau tega meninggalkanku. Dan tahukah Kau , Aku masih mencintaimu hingga Aku setua ini" ucap Ayahmu.
"Maafkan Aku telah meninggalkanmu,masih kusimpan juga cinta ini untukmu ..." jawab ibuku disela isaknya. Kepala Ibuku bersandar dibahu Ayahmu, Ayahku,calon mertuaku. Dan tubuhku tumbang seketika.

                                               

     

2 comments:

Indah Nuria Savitri said...

waaah...seru juga FFnya...final twistnya seru :D...salam kebal ya maaak...

Unknown said...

Sudah suntik imunisasi maak, jadi sudah kebal..:D