Monday, October 24, 2016

Belajar Bijak dari Pledoi Jessica Kumala Wongso

Transkrip pledoi pembelaan Jessica Kumala Wongso atas tuduhan pembunuhan terhadap Mirna Sadikin yang katanya sampai 4000 halaman membuat saya takjub. Ternyata seseorang dalam keadaan merasa terdzolimipun bisa menjadi penulis kreatif dadakan. :).
Apa isi pledoinya? tentu saja pembelaan terhadap segala tuduhan yang ditujukan padanya. Dan bersumpah bahwa dia tak mungkin melakukan hal tersebut. Karena Mirna adalah sahabat yang disayanginya. Bagaimana mungkin dia bisa melakukannya? sungguh tidak masuk akal. Juga menceritakan bagaimana kehidupannya begitu jungkir balik setelah peristiwa itu terjadi. Drama pengadilan harus dijalaninya dengan tabah dan menguras tenaga. Keluarganyapun menjadi ikut terusik. Kedamaian musnah dalam sekejap dan penyesalan, seandainya ia tak kembali ke Indonesia dan bertemu dengan Mirna di cafe Oliver. Dan pengandaian pengandaian lainnya.  Dalam hal ini tentu saja tujuannya adalah mengetuk pintu nurani hakim yang paling dalam agar mampu bersikap adil dalam mengetuk palu keputusan.

Dari membaca pledoi Jessica, diri ini tak hendak untuk menyororti siapa yang benar dan siapa yang salah. Seorang tersangka sah sah saja untuk membuat pledoi pembelaan beribu ribu lembar, dan seorang yang merasa menjadi korbanpun sah sah saja membuat tuduhan dengan bukti yang mendasar. Ada benang merah menurut saya yang bisa saya petik dari kasus ini. Bukan menyoal kasus pembunuhannya. Akan tetapi pada tuduhan yang akhirnya menggiring opini publik pada dugaan yang belum pasti kebenarannya. Mungkin adalah sifat manusia untuk mudah menghakimi manusia lain. Manusia yang cenderung untuk mudah mengoreksi dan mengukiti kesalahan manusia lain ketimbang kesalahan atau kekurangan diri sendiri. Bukankah memang membersihkan daki orang lain lebih mudah menggapainya daripada menggapai daki sendiri, apalagi daki di belakang tubuh kita?.
Ada pembelajaran kecil namun sarat makna dari kisah drama Jessica. Kasus ini mengajak kita agar lebih bijak untuk tidak mudah menghujat. Apalagi ketika kita tak tahu pasti kejadian sebenarnya. Tak mudah menyebar link yang belum pasti keabsahannya. Apakah dari sumbernya secara langsung atau hanya mengutip berita sepotong sepotong. Media sosial sangat mudah memviralkan suatu kejadian. Bahkan berita di media yang berseliweran mampu membentuk haters dengan komentar yang pedesnya melebihi Maichi level sepuluh. Hidup ini kejam saudara, tapi apakah kita menjadi salahb satu sumber kekejaman hanya dengan asal komentar yang berisi kebencian?. Oh..No!!!.

Bila kita tak memahami akar permasalahan akan menjadikan bumerang buat kita, akan juga bisa menjadi fitnah buat yang lain. Kalaupun selama ini aib yang kita miliki tak diketahui oleh orang lain, bukankah itu artinya Tuhan masih menutupi aib kita dengan kuasaNya?. Lalu mengapa kita begitu mudah menyebar aib orang lain demi kepuasan pribadi?. Terkadang tanpa kita sadari, bisa jadi kita adalah aib bagi orang lain bukan?.

Bila kita tak mengerti akan sesuatu, rasanya diam adalah hal terbaik yang kita lakukan.



0 comments: